Sabtu, 16 Januari 2010

CERITA LAMA SOSOK IWAN FALS


Virgiawan Listanto, publik lebih mengenalnya sebagai Iwan Fals. Namanya membumbung setelah mengeluarkan album bertitel Oemar Bakri pada tahun 1981, suami dari Yos dan ayah dari (Alm) Galang Rambu Anarkhi serta Anisa Cikal Rambu Basae ini benar-benar telah menjadi idola sejak menelurkan album “Buku Ini Aku Pinjam” dan “Mata Dewa” pada warsa 1988. Karirnya semakin melebar sejak mendirikan grup Swami dengan hits Bento dan Bongkar di warsa 1990 yang kemudian dicekal penayangannya di televisi karena pembesar rezim saat itu merasa tersinggung dan gak mau disinggung.

Dilahirkan di tanah Jakarta pada tanggal 3 September 1963, sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara dari pasangan Haryoso dan Lies, Iwan berangkat remaja dan bergaul bersama anak-anak berbagai lapisan. Iwan yang ngamen dari satu warung ke warung lainnya pergaulan Iwan dengan berbagai kalangan ini sangat mempengaruhi lirik-lirik lagu ciptaannya yang sebagian besar bernada kritik sosial dan opini pedas.

Ketika SMP Iwan disekolahkan ke Jeddah, di sana Iwan tinggal bersama tantenya yang memasukkan dia ke sekolah khusus anak-anak Indonesia yang muridnya cuma beberapa puluh orang saja. Iwan menggambarkan masa-masa itu sebagai masa penuh siksaan batin, karena hampir setiap hari ia rindu untuk bisa pulang ke tanah air “Sungguh saya nggak betah. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu cuma satu, bagaimana caranya balik ke Indonesia. Bagaimana supaya bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan teman-teman,” ujar Iwan mengenang.

Iwan Fals – Suara Lantang Anak Bangsa Tapi kesempatan yang singkat itu dimanfaatkan oleh Iwan untuk pergi ke Ka’bah. Di sana ia berdoa meminta pada Tuhan agar ditunjukkan jalan untuk kembali. “Saya bilang waktu itu saya akan bersungguh-sungguh menjadi penyanyi yang tenar,” ujarnya tersenyum. Do’annya ternyata dikabulkan. Maka pulanglah Iwan sambil membawa gelar haji.

Begitulah Iwan Fals, kehidupannya penuh lika-liku perjuangan. Ketika namanya sudah dikenal orang pun, Iwan masih sering ngamen dan bahkan pernah jadi supir omprengan Pasar Minggu-Depok, pp.

Ketika berumur 20 tahun di tahun 1981, Iwan menelurkan album Oemar Bakri, sejak itu album-album bernada kritisnya beredar di pasaran. Di Pekanbaru ia pernah ditahan selama seminggu. Lalu di Kramat V Jakarta, pernah harus lapor tiap hari, diinterograsi selama tiga bulan.

Kepopuleran nama Iwan membuat sutradara Sopan Sophian mengajaknya bermain dalam film berjudul “Damai Kami Sepanjang Hari”. Film ini menceritakan tentang kehidupan pengamen jalanan, diproduksi tahun 1984 dan diilhami dari lagu karya Iwan yang berjudul sama.

Meski demikian, nama Iwan benar-benar melekat di hati para remaja sejak ia menggandeng Ian Antono (God Bless) untuk membantu penggarapan album-albumnya. Ian menerjemahkan pekikan Iwan lewat musik yang terpengaruh sentuhan rock. Maka lahirlah album Buku Ini Aku Pinjam (1988), sebuah album berlirik sederhana, komunikatif, tapi tidak klise, berpadu dengan gitar Ian yang garang. Jadilah album ini digandrungi remaja. Album selanjutnya, Mata Dewa (1988) ternyata tak kalah sukses. Tawaran show pun berdatangan dari berbagai penjuru tanah air. Pada saat itu ia mungkin tidak pernah terpikir bahwa satu saat dirinya akan melambung ke puncak popularitas bersama Saung Jabo, Naniel, nartoe, Innisisri, Jerri, dan Tatas. Setahun kemudian, Jerri dan Tatas digantikan oleh Totok Tewel dan Yockie Soerjaprayogo mereka mengeluarkan album berjudul Swami (produksi Pt Airo Swadaya Stupa pada bulan Maret 1990 dengan mengandalkan lagu Bento dan Bongkar

Album Swami menjadi album terlaris sepanjang tahun 1990 karena dalam kurun waktu tiga bulan mencapai angka penjualan 400 ribu keping!

Swami bubar pada tahun 1991. Iwan kemudian asyik dengan kelompok Kantata Takwa yang antara lain beranggotakan Rendra dan Setiawan Djodi. Pada tahun 1992, Iwan meluncurkan album Belum Ada Judul (Harp Record) dimana ia mendapat bayaran bersih Rp200 juta! Saking ngetopnya Iwan ketika itu, sampai anak-anak SLTA di Yogyakarta banyak mengganti badge Osis di baju seragamnya dengan gambar Iwan Fals.

Tahun demi tahun pun lantas dilalui Iwan. Di tahun 2001, Iwan baru saja mendukung pertunjukan Nyanyian Anak bangsa yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail marzuki, Rabu (11/4) lalu. Selain Iwan pertunjukan dimaksudkan sebagai kegiatan intropeksi diri melalui kesenian itu juga didukung oleh Fanky Sahilatua, Leo Kristi, H Sujiwo Tejo, Doel Soembang, Connie Dio serta banyak musisi lainnnya. Tak ketinggalan juga penyair Taufik Ismail dan Jose Rizal Manua.

Oi Iwan adalah sosok penyanyi yang dipuja dan cintai penggemarnya karena keberanian dan lantangan lagu karya ciptaannya. Untuk para penggemar setianya itu Iwan telah mendirikan YOI (Yayasan Orang Indonesia). Bersama teman-temannya di Yayasan Orang Indonesia yang Moch Ma’mum (wakil) Endy Aras (sekretaris) dan Yos (istri Iwan Fals sebagai bendahara) serta Iwan sendiri sebagai ketua, mereka sepakat untuk mendirikan Oi yang tidak ada arti atau singkatan hanya sebutan yang bermaksud seruan atau panggilan.

Keberadaan Oi ini tentu saja menambah kedekatan Iwan dengan para fansnya. Kongres pun beberapa kali diadakan dan hasil signifikannya yaitu diputuskan empat garis besar untuk kegiatan Oi yaitu olahraga, niaga, perpustakaan dan kesenian. Satu syarat lagi Iwan berharap Oi tidak jadi partai politik sebab itu melanggar dari maksud dan tujuan dibentuknya Oi meskipun masa Oi lebih banyak dari jumlah masa parpol manapun di Indonesia :D Dan sampai saat ini Iwan Fals masih lantang menyuarakan suaranya sebagai anak bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar