Kamis, 27 Oktober 2011

SALAM Oi

Seirinng dengan berjalannya waktu, perubahan selalu menyertainya, baik pemikiran, pola hidup maupun tata cara berkomunikasi. Bertahan dalam sebuah ideologi atau prinsif memang dibutuhkan untuk sebuh jati diri, tapi bukan berarti tida mengikuti perkembangan zaman. Sebelas tahun yang lalu, sekumpulan orang yang berkumpul di Leuwinanggung Depok tepatnya tanggal 16 Agustus 1999 dirumah seorang musisi terkenal “the legend” yaitu Virgiawan Listanto yang lebih dikenal dengan nama Iwan Fals, mempelopori berdirinya sebuah Organisasi yang dinamai Oi, Oi adalah seruan untuk bersatu bagi fans Iwan fals dalam pada itu tercetus “Oi Bersatulah”. Saya tidak tahu maksud dan tujuan IF (Iwan Fals) pada saat mengumpulkan sampai 300 orang lebih fansnya dari seluruh Indonesia untuk mendirikan Oi ini, yang saya tangkap hanyalah sebuah “keseriusan” dari seorang musisi dan fansnya untuk mengabdikan hidupnya dalam masyarakat sebagai tuntunan “hamblun minallah wahablum minannas”.

Sebagai musisi, Iwan Fals sangat lantang menyuarakan dalam syair syairnya, ketertindasan, kemiskinan, korupsi, perampasan hak hak rakyat kecil, sampai pada pemimpin diktator, Iwan Fals sangat “melawan arus” dalam hiruk pikuknya perpolitikan Indonesia, bermunculan simpatik dan menjadikan idola oleh fansnya, musisi, tokoh politik lainnya sebagai sosok pemberani, disamping itu pula mahasiswa, tokoh tokoh pergerakan ditangkap dan di penjarakan sementara Sosok Iwan Fals malah melenggang kangkung di luar dan tetap mendengingkan suara gitarnya untuk protes keterpurukan dan kemerostan akhlak dan keagkuhan sang penguasa.

Kebradaan Oi dalam perkembangan organisasi di tanah air Indonesia, adalah merupakan warna baru, sebab harus di akui bahwa dalam keberadaan Oi (Ormas Oi) adalah fans Club pertama yang berubah menjadi Organisasi massa dan satu satunya di Indonesia pada saat itu.

Sebagai organisasi, Oi (Ormas Oi) tentunya mempunyai struktur kepengurusan seperti layaknya organisasi lain, mulai dari BPP Oi (Badan Pengurus Pusat Oi), BPW Oi, BPKota Oi, dan selanjutnya ke BPKelompok Oi. Dengan terstrukturnya inilah (Ormas Oi) secara kolektif menyatukan barisan untuk berbuat segala sesuatu yang ditentukan di Rakernas, Rakerwil dan Rakerkot. Disitulah “digodog” program kerja untuk dilanjutkan ke kegiatan yang riil (nyata). Dalam lingkup slogan “SOPAN” Seni, Olah Raga, Pend. Perpustakaan dan Niaga, dalam Keagamaan juga dilakukan dalam kondisi daerah masing masing dengan unsur sosial yang sangat tinggi, yang tidak berafiliasi dengan partai politik manapun.

Sebagai Ormas yang menjalani proses “pencarian jati diri” Oi terus berjalan penuh eksistensi dalam bentuk kegiatan sosial, Pemberdayaan pada anggota dan pengabdian diri pada masyarakat lingkungan merupakan salah satu target dari program program kerja yang diadakannya, dan dipertanggungjawabkan dimasa akhir keperiode-an kepengurusan Baik di Pusat, Wilayah maupun Kota dan Kelompok.

Waktu terus berlalu, Ormas Oi terus memperbaiki format Organisasi ideal sebagaimana yang saya utarakan terlebih dahulu bahwa Ormas Oi lahir dari Fans Club Iwan Fals. Jadi selayaknya Ormas Oi pun dapat menampung dari segala bentuk komuniats yang “berlabel” Iwan Fals. Sebetulnya Oi bisa merupakan sesuatu kekuatan besar organisasi yang ada di Indonesia jikalau masing masing pihak (Fans Iwan Fals) ingin meleburkan diri untuk mengurus Organisasi Oi yang didirikan Sang Pujaan, Cuman yang ada sekarang adalah sebagian Fans Penikmat lagu, Fans yang hanya bercerita tentang keseharian Iwan Fals, apa saja yang menyangkut dengan Iwan Fals. Mungkin bisa dimaklumi hal hal seperti itu, tapi Orams Oi memerlukan orang orang yang punya Visi dan Misi nun jauh kedepan untuk menjadikan organisasi Oi ini tampil kedepan publik dan menuju ke organisasi yang modern.

Pertemuan awal selama saya menjadi Pengurus di Oi tepatnya BPK Oi Gresik, pertemuan dalam acara Pendirian Koper-Oi dan Refleksi 9 Tahun Oi di Rindam Jaya Condet selama 3,5 jam, kata Iwan Fals “ Semoga Oi melahirkan generasi yang lahir dari rahim peradaban “, Dalam forum tersebut menjadi sebuah acara yang menurut saya lebih ideal, karena Iwan Fals berinteraksi (berdialog) dengan Para Pengurus dari seluruh Indonesia dan Iwan Fals pun bersemangat menceritakan kejadian berdirinya dan keinginannya mendirikan Oi. Berlanjut lagi di Muans Oi ke IV di Aula Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Iwan Fals datang lagi bersama keluarganya untuk mengikuti acara tersebut, Iwan Fals dan Ibu Yos (isteri) berada dalam lingkaran peserta Munas dari seluruh Indonesia. Dengan keunikan tampilan masing masing, peserta Munas Ormas Oi mampu memberi bentuk lain dan yang terbaik dengan diamandemennya AD-ART dan lebih utama lagi menghasilkan ketua baru yang sangat profesional dan sudah sarat pengalaman dalam mengurus organisasi nasional. DR. Sonny Teguh Trilaksono, M.Pd. MBA. Adalah Ketua Umum terpilih pada Periode 2010 – 2012. dan menjadi tonggak sejarah baru bagi Oi itu sendiri, sebagai organisasi yang akan mensejajarkan diri dengan organisasi yang lebih dulu berperan.

Berfikir, berkata, bertindak……..Seperti tokoh organisasi pada umumnya, Iwan Fals sudah mulai “membuka” diri untuk turun ke gelanggang dan melebur bersama serta memberi support pada anggota organisasi Oi yang didirikannya. Dengan kehadiran ditengah tengah massanya Iwan Fals bersama anggota mengadakan berbagai kegiatan sosial, pagelaran seni budaya serta penanaman pohon, penaggulangan bencana alam oleh OCC (Oi Crisis Centre) sebagai wujud keseimbangan hidup bagi umat manusia. Kini……Ormas Oi sudah menjadi salah satu organisasi massa yang diperhitungkan di Bumi Nusantara, dan perlu diketahui bersama bahwa besarnya massa tidak menjamin tumbuh kembang dan berhasilnya sebuah organisasi, akan tetapi keseriusan, kebersamaan terus menerus dalam komitmen menjadikan lebih utama dalam mencapai sebuh tujuan.

Kesadaran terus menerus yang dapat menjadikan jiwa kita lebih besar dan menerima segala konsekwensi dari segala perbedaan pada kehadiran kita di organisasi ini, sangat perlu kita tanamkan bahwa Iwan Fals sebagai tokoh idola yang dibanggakan bersama oleh Fals Mania, Pengabdi Fals, FFC dan apapun namanya, marilah kembali menyatukan barisan dalam visi atau tujuan yang sama, tujuan yang diingini sang idola.

Hari ini……Iwan Fals, saya rasa berbahagia dengan usia Oi yang sudah memasuki usia 11 Tahun, sebagai seorang “Bapak Oi” yang melahirkan anak yaitu Oi, terbersit rasa syukur yang paling dalam melihat begitu dahsyatnya perkembangan Ormas Oi, tidak saja sebagai fans biasa, Oi sudah merubah diri dengan sebuah kedewasaan yang konsen dengan program kerja. Seperti layaknya Bapak, Iwan Fals tidak mungkin selalu hadir ditengah tengah massanya yang sekian juta di Nusantara dalam acara demi acara yang diadakan Ormas Oi, tapi anggota Oi pun selalu mengerjakan skala program tanpa kehadiran beliau.

Dalam satu kesempatan di Rembang, Saya dengan Iwan Fals bertemu diatas mobil “Tiga Rambu” berdua, berbincang sekilas, apa yang saya perbincangkan disitu adalah sebuah keinginan dari Iwan Fals untuk menanam pohon, sehingga dampak dari hilangnya pohon pohon bisa diatasi di tahun tahun mendatang, tapi apa kata Iwan Fals, menanam adalah pekerjaan yang sangat gampang, tapi bagaimana merawatnya. Saya rasa ormas Oi pun begitu, melahirkan Oi bagi Iwan Fals sangatlah gampang, sebab semua orang tahu bahwa massa fanatiknya tersebar keseluruh pelosok tanah air Indonesia. Tapi merawat organisasi yang didirikannya ini adalah sebuah keseriusan dari semua fansnya, yaitu anggota Oi.

Layar sudah terkembang…….tak ada kata lain lagi selain maju, bergerak untuk mencapai tujuan Oi…….kita sudah Pantang Surut ke Pantai, kita sudah mengarungi samudera luas, kita harus bertahan pada terpaan gelombang, mari semua mengevaluasi diri, sudahkah kita “mengabdi” , pada sang idola, melalui Ormas Oi, tentu kita juga memberi Bhakti pada Negara Indonesia tercinta, tunda dulu bernyanyi, tunda dulu bersenang senang….sekarang saatnya bekerja untuk bernyayi di esok hari……Oi Semoga Jaya..!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar