Sabtu, 24 Oktober 2009
Kamis, 15 Oktober 2009
Iwan Fals Relakan Lukisan, Gitar, Topi


Dalam konser amal untuk bencana alam gempa bumi Sumatra yang disiarkan langsung oleh TV One, Kamis 15 Oktober 2009 terjadi beberapa kejutan. Konser Satu Untuk Negeri yang diisi oleh penampilan mantap dari Iwan Fals & Band bertujuan menggalang dana bantuan dengan mengadakan lelang. Barang yang dilelang adalah lukisan karya Iwan Fals dan beberapa raket bersejarah milik pemain Bulu Tangkis yang telah berprestasi hingga mengharumkan nama Indonesia didunia internasional.
Semua barang yang dilelang dimulai dengan harga pembuka sebesar 20 juta Rupiah. Lukisan bergaya abstrak karya Iwan Fals pada puncaknya ditawar seharga 88 juta Rupiah. Dan menariknya lelang yang bisa diikuti via telpon ini, diberitakan ada yang menawar barang diluar daftar lelang. Barang itu adalah gitar akustik yang saat itu dipakai Iwan Fals. Gitar itu ditawar senilai 100 juta Rupiah. Iwan Fals menanggapi dengan sedikit bercanda dan berkata, "Sekalian saja sama topi, jaket dan celana...".
Tak lama kemudian dalam live show itu masuk telepon yang diperdengarkan on-air. Penelepon tersebut malah menginginkan topi yang sedang dipakai Iwan Fals dan ditawar seharga 50 juta Rupiah. Mendengar ini, Iwan Fals tampak terkejut dan seperti tak bisa berkata banyak. "wah.. kalau gitu harus dicuci dulu topi ini..", kata Iwan sambil tersenyum. Wow, topinya saja ada yang berani beli seharga 50 juta, bagaimana dengan barang lainnya ya?. Memang luar biasa fanatisme para penggemar Iwan Fals.
Untuk konsernya sendiri saya acungi jempol. Penampilan Iwan Fals & Band sangat memukau. Aransemen musiknya begitu cantik meski banyak perubahan dari lagu aslinya, namun terasa begitu nikmat didengar. Iwan Fals sendiri masih mampu berteriak lantang penuh semangat dan menampilkan harmonika bersama gitar akustiknya. Performa para musisi pendukung juga maksimal, mereka seperti mengeluarkan segala kemampuannya dalam show kali ini. Musisi pendukung itu adalah Heirrie Buchaery (bass), Edi Daromi (keyboard), Totok Tewel (lead guitar) dan Deni Kurniawan (drum).
Iwan Fals menyanyikan lagu-lagu yaitu: Bencana Alam, Jangan Bicara, Panggilan Dari Gunung, Bento, DihatiMU Aku Berlindung, Rajawali, Bongkar, Seperti Matahari dan Katakan Kita Rasakan.
Saya hanya bisa menyaksikan dari TV, sebab konser amal di hotel berbintang di Jakarta ini hanya ditujukan bagi para undangan. Meski tidak menutup kemungkinan ada bukan undangan yang bisa masuk kedalam. Namun yang sangat saya benci menonton konser live di TV adalah lagu-lagu yang dinyanyikan hampir seluruhnya tidak sampai habis karena dipotong commercial break.. huh..!
Rabu, 30 September 2009
Innisisri Meninggal Dunia

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.
Menyusul kedua sahabatnya yang telah mendahului, WS. Rendra dan Mbah Surip, pada tanggal 31 September 2009 pukul 03.00 Innisisri, mantan penabuh drum Kantata Takwa meninggal dunia pada usia 58 tahun di Rumah Sakit Graha Permata Ibu, Depok. Sebelumnya beliau menderita kanker usus, yang baru diketahui sejak Desember tahun lalu.
Selama ini beliau dikenal kalangan musisi sebagai salah satu perkusionis terbaik Indonesia. Beliau pernah bergabung dalam Swami, Kantata Takwa dan Dalbo bersama rekan-rekannya seperti Iwan Fals, Totok Tewel, Sawung Jabo, Setiawan Djodi, Jockie Soeryoprayogo dll. Terakhir ia aktif dalam Komunitas Kahanan Innisisri yang dibangunnya sejak 1983. Kahanan Innisisri sendiri merupakan kelompok komunitas musisi yang mengembangkan orkestrasi perkusi etnik dan telah mendapatkan tempat tersendiri di dunia internasional.
Jenazah direncanakan akan dikebumikan berdampingan dengan makam penyair WS. Rendra di Bengkel Teater pada pukul 13.00.
Semoga Allah SWT meridhoi amal-amalnya dan menerimanya di sisi-Nya.
Innisisri Akan Dimakamkan di Bengkel Teater Rendra

Musisi Innisisri meninggal dunia dalam usia 57 tahun, Rabu (30/9) siang di Depok, Jawa Barat, karena sakit. Innisisri yang akrab disapa Sri rencananya dimakamkan di Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok, Jawa Barat, Kamis ini.
Sri menjadi seniman ketiga yang dimakamkan di Bengkel Teater setelah seniman Mbah Surip dan pendiri Bengkel Teater, WS Rendra, sejak awal Agustus lalu.
Keputusan memakamkan Sri di Bengkel Teater diambil para seniman Bengkel Teater, Rabu malam. ”Tapi, kami menunggu terlebih dahulu keluarga Sri dari Semarang,” ujar Edi Haryono, anggota senior Bengkel Teater yang juga sahabat Sri.
Sahabat Sri lainnya, Prita Indrarini, menceritakan, Sri jatuh sakit sejak 14 Desember 2008. Tanggal 29 Desember, Sri dirawat di rumah sakit hingga 4 Januari 2009. Kemudian, ia pulang ke rumahnya di Kecamatan Sukmajaya, Depok.
”Karena tidak berkeluarga dan tinggal sendirian, akhirnya Sri dibawa ke rumah saya di Perumahan Depok Mulya I untuk dirawat,” kata Prita.
Prita menceritakan, menurut diagnosis dokter, Sri menderita semacam bisul pada usus besarnya. Akibatnya, ia tidak bisa makan dan buang air besar. Rabu sekitar pukul 14.00, kondisi Sri yang sebelumnya cukup baik tiba-tiba memburuk. Ia pingsan dua kali dan akhirnya meninggal dunia sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.
Penghubung
Edi Haryono mengatakan, Sri adalah musisi perkusi yang hebat dan sangat berbakat. Dia berangkat dari gamelan. Setelah itu, dia berkenalan dengan drum dan musik Barat lainnya.
”Musiknya itu dimulai dari ketukan dan ritme. Dari situ ia bisa menciptakan melodi-melodi. Itulah kehebatan Sri,” kata Edi yang berteman dengan Sri sejak tahun 1970-an.
Sri, kata Edi, pernah bergabung dengan kelompok musik Kampungan dari tahun 1976 hingga 1980. Kemudian, dia bergabung dengan Sirkus Barock, Swami, dan Kantata Takwa bersama Sawung Jabo.
Menurut etnomusikolog Rizaldi Siagian, dalam lanskap musik nasional, posisi Sri cukup penting. Dia adalah penghubung antara musisi tradisional dan modern. Dia bekerja sama dengan musisi-musisi Banyuwangi dan membentuk grup Kahanan pada tahun 1980-an. ”Ini memberikan sumbangan sangat positif bagi perkembangan musik nasional,” ujar Rizaldi yang pernah bekerja sama dengan Sri dalam pementasan Megalitikum Kuantum tahun 2005.
Di mata Rizaldi, yang penting dari Sri adalah gerakan bermusiknya yang berusaha menyatukan musisi tradisional dan modern. ”Ia meleburkan diri dengan musisi tradisional dan mengembangkan musik bersama,” tutur Rizaldi.
Senin, 28 September 2009
NEGERI YANG HILANG (SINGEL TERBARU 2009)

Sejak album 50:50 yang dirilis 2007, Iwan Fals belum mengeluarkan album baru. Namun demikian Iwan Fals membuat beberapa singel, baik yang dipublikasikan maupun yang belum. Singel-singel tersebut antara lain "Untukmu Terkasih" yang sudah dirilis video klip dan RBTnya, serta "Badai Belum Berlalu", "Musafir", dan "Negeri yang Hilang" yang rencananya akan dirilis dalam bentuk RBT dan full track download. Lirik "Negeri yang Hilang", sebagai berikut:
NEGERI YANG HILANG
(Iwan Fals, singel, 2009)
Fajar pergi tak mau kembali
Ikuti langit nun kelabu
Sunyi hati bunga melati
Tunduk haru dan sembunyi
Lihatlah lambai jelata
Datang mencari terang
Lelah sudah satwaku memohon
Bijak pemimpin bangsa
Mana sejuk senyum damaimu
Kurindu subur dan merdeka
Bangun negeri bumi pertiwi
Sisa harimu kunanti
Lihatlah lambai jelata
Datang mencari terang
Lelah sudah satwaku memohon
Bijak pemimpin bangsa
Sayangi Indonesia...
[red/sumber: Rolling Stone Indonesia edisi Juli 2009]
THE LEGEND IS BACK

THE LEGEND IS BACK! Ya, legenda hidup Iwan Fals kembali menyambangi penggemarnya dengan merilis album baru yang diberi titel “50:50″. Konon konsep album ini dibuat dalam konsep keseimbangan “Yin” & “Yang” yang mengusung tema Cinta dan kritik sosial yang dimunculkan secara berimbang, lugas, sederhana namun berisi.
Album ini berisi memuat 12 lagu bertema cinta, sosial dan humanis yang lekat dengan sosok Iwan Fals. Album yang terdiri dari 12 lagu ini 6 lagu dibuat oleh Iwan Fals sendiri, sedangkan 6 lainnya oleh komposer lain seperti Dewiq, Opick, Yockie Suryoprayogo, Pongki Jikustik, Digo [ketua OI] dan Bongky [Slank, Flowers, BIP].
Cinta dan kritik sosial kembali membawa Iwan Fals ke hadapan jutaan OI (Orang Indonesia) tahun ini. Album penuh aroma cinta dan deru kritik sosial dengan bungkus pop ini berhasil memberikan jawaban akan kemana visi dan misi Iwan Fals. Seperti judul albumnya tidak semua misi membawa virus cinta. Setengah dari album ini adalah visi berupa kritik pada kondisi sosial masyarakat Indonesia. “Aku merasa mendapat respon bagus dari Musica Studio’s saat merilis album ini. Karena tidak hanya lagu-lagu pop yang sedang digemari saat ini tapi juga mereka mau menampung lagu-laguku yang tidak mengambil tema cinta,” kata Iwan Fals tentang proyek album yang materinya 6 lagu diambil lebih dari 300 lagu ciptaanya.
Misalnya “Mabuk Cinta” ciptaan Bongky BIP. Kali ini groove reggae dikeluarkan lewat balutan musik pop reggae yang mengalun indah. Bunyi kibor yang mengawang dan memberi beat yang seksi akan terdengar ritmis dan manis lewat siraman drum dan bass yang mengawal vokal khas Iwan Fals yang begitu enjoy dan lepas saat menyuarakan lirik tentang indahnya mengalami jatuh cinta kembali itu. Lagu ini menjadi single pertama dari legenda yang kini tinggal di Leuwinanggung ini.
Apapun yang keluar darinya (dengan konsep yang mungkin baru baginya) akan tetap menjadi magnet yang siap akan membius dan memabukkan seperti menyimak lagu yang menjadi single perdana album 50:50 ini. Yang paling menonjol di album ini diantaranya lagu berjudul “Masih Bisa Cinta” karya Dewiq yang di aransemen oleh Erwin Gutawa. Di lagu ini pendekatan yang disuarakan Iwan Fals tidak kalah dengan gaya rockstar anak muda seperti Pasha, Giring, atau Ariel saat menyuarakan kerinduan pada orang tercinta. Sebuah tema universal dengan lirik cinta yang akan menjadi guilty pleasure pula dengan lagu “Yang Tercinta” karya Opick yang di aransemen Addie MS. Sulit memberikan kredit pujian mana yang paling bagus dari dua lagu ini. Keduanya kuat di aransemen. Kuat pula dari struktur lagu. Dan yang paling utama vokal Iwan Fals berhasil menyatu dan saling mengisi dalam sebuah paket pop penuh cinta yang membuatnya menjadi tidak pasaran dan murahan. banyak orang.
Menarik adalah lagu karya Pongky Jikustik berjudul “Tak Pernah Terbayangkan” yang di aransemen oleh Bagoes AA. Lagu yang ditulis Pongky ini menurutnya terinspirasi dari kisah hidup Iwan Fals yang selalu ditemani sang istri, – mbak Yos – dalam kondisi apapun. “Tulis besar-besar tentang hal itu, saya mendedikasikan lagu tersebut untuk mas Iwan agar dinyanyikan untuk mbak Yos,” kata Pongky. Sebuah ode yang dipersembahkan Pongky untuk Iwan Fals ini menjadi reuni bagi keduanya. Sebelumnya Pongky pernah memberi lagu bagus di album In Collaboration With dengan judul “Aku Bukan Pilihan.” Bagoes AA berhasil mengemas lagu ini dengan sempurna. Pop yang masih terasa kuat dalam aransemen, syarat yang harus ada dalam lagu-lagu Iwan Fals.
Lagu lain yang sangat kuat dalam tema ada pada “Apakah Aku Benar- Benar Memiliki Kamu” karya Digo yang saat ini menjabat sebagai ketua OI. Kontribusi Digo sebelumnya adalah membantu mengisi gitar saat pembuatan album Suara Hati yang menandai kembalinya Iwan Fals ke panggung musik dengan lagu-lagu baru dan bukan lagu aransemen ulang. Lagu ini menjadi makin terasa hidup dan bernyawa dengan aransemen yang dimainkan oleh Andi Bayou. Tidak ketinggalan wartawan senior Remy Soetansyah turun gunung memberi kontribusi lagu berjudul “Ini Bukan Mimpi” yang diciptakan bersama Yockie Soeryoprayogo yang juga membuat aransemen yang kuat di lagu ini.
Sebuah lagu yang memberi kita sebuah petunjuk, sebuah penerang, sebuah wacana bahwa bencana yang sedang terjadi yang menimpa Indonesia bukan sekedar sebuah siaran berita di TV, radio, atau Koran. Sebuah kenyataan yang patut direnungkan. “Aku juga menyumbang lagu cinta di album ini. Judulnya ‘KaSaCiMa’. Kadang aku memang tidak pede kalau membuat lagu bertema cinta sekarang ini” kata ayah dari Raya dan Cikal ini. “KaSaCiMa” menurut Iwan Fals diciptakan lebih dari 15 tahun lalu. “Pas mau dirilis bingung mau dikasih judul apa, ya sudah ‘KaSaCiMa’ saja. Singkatan dari Kasihku Sayangku Cintaku Manisku,” katanya sambil tergelak. Lagu “Cemburu” sangat kuat dengan efek suara biola dan flute yang dibiarkan mengawang menjadi teman pengiring bagi karakter vokal Iwan Fals.
Peristiwa Munir juga menjadi perhatian Iwan Fals di album ini. “Saat mendengar kematian Munir aku sedih. Secara jujur aku kagum akan apa yang dia perjuangkan. Aku membuat lagu ‘Pulanglah’ saat sedang berada di Sukabumi,” kata Iwan Fals yang menyebut Munir sebagai Pendekar. Bentuk kepedulian lain yang disuarakan Iwan Fals di lagu ini ada pada “Negara”. Sebuah protes yang ditujukan pada kondisi Negara yang seharusnya ideal dan melindungi rakyatnya secara jeli dan jujur coba disuarakan. “Tugasku sebagai seniman ya cuma bisa menyuarakan ide-ide. Aku tidak tahu bagaimana mewujudkannya. Biarlah mereka yang pandai yang memberikan solusi,” katanya jujur.
“Ikan-Ikan” dan “Rubah” juga masih secara seksama mencoba meneriakkan ketidakadilan dan ketidakberesan yang terjadi di tingkat bawah. “Ini album yang secara tema aku rasa imbang. Yang akan mencari cinta ada. Yang mencari lagu-lagu berisi protes sosial juga ada,” ujar sang legenda.
Mencoba berimbang. Itu yang sedang dilakukan Iwan Fals di album 50:50 ini. Satu yang tidak berubah dari semua album Iwan Fals adalah pesona, kharisma, karakter dan sosoknya yang akan selalu memabukkan siapa saja yang menyimak lirik lagu-lagunya. Entah itu lagu berisi pesan cinta atau pesan kritikan sosial yang menjadi senjata utamanya.
